web 2.0

Semerbak wangi bisnis parfum isi ulang

Edisi Minggu Bisnis Indonesia

26 September 2010

 

Sebagai salah satu pelengkap gaya hidup pularitas partum tidak pernah luntur dan tetap diminati oleh hamper semua kalangan karena aroma khas yang ditawarkan.

Tingginya harga parfum original, membuat banuak kalangan baik di kota besar maupun daerah beralih menggunakan parfum refill sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut

Perbedaan harga antara parfum refill dan original pun lebih dari 10 kali lipat, misalnya parfum original dengan 100 ml ditaksir dengan harga Rp. 600.00 hingga Rp 2 juta, sementara parfum refill harga yang ditawarkan jauh lebih murah dengan ukuran sama yaitu Rp. 40.000 hingga Rp. 100.000.

Wangi yang ditawarkan pun hampir tak ada bedanya, tak heran bila kini perfume refill semakin menjamur di berbagai pusat keramaian dan perbelanjaan.

“prospek parfum refill ini sangat bagus meningat kultur masyarakat Indonesia yang menyukai produk dengan kualitas tinggi tetapi dapat dibeli dengan harga yang terjangkau,” ujar Furqan AMC pemilik Piquant refill se-Jabodetabek sejak berdiri 2006.

Ketika akan memulai usaha ini, hal pertama yang harus disediakan pelaku-pelaku adalah bibit parfum dengan berbagai aroma yang kemudian diracik dengan camuran alcohol dengan kadar 92%-99%.

Selain bahan baku, pelaku juga harus menyediakan kemasan dengan berbagai bentuk dan variasi, ada yang roll on, spray, bahkan berbentuk pena. Ukurannya juga bervariasi mulai dari 8 ml, 10 ml, 25 ml hingga 100 ml. Parfum tiruan berkualitas tinggi karena tidak dikemas dengan merk tertentu.

Hal yang kemudian harus dipersiapkan adalah peralatan untuk meracik parfum, seperti injector untuk menyuntikan parfum ke botol, gelas ukur untuk mengukur volume, methanol untuk mensterilkan peralatan dan botol yang sudah digunakan.

Besaran investasi yang harus dikeluarkan oleh pelaku sebenarnya sangat bervariasi tergantung kebutuhan serta cara pemasaran. Furqan yang menjual produknya dengan membuka toko, harus mengeluarkan dana sebesar Rp. 44 juta yang digunakan untuk menyewa toko Rp 14 juta, peralatan dan display toko berupa neon box, spanduk dan etalase Rp 10 juta serta Rp 20 juta untuk bahan baku bibit dan alcohol.

Lokasi memang menjadi satu factor penting dalam menunjang usaha ini karena itulah lokasi di pusat keramaian seperti mal dan sekitarnya, kampus atau di sekitar pemukiman menjadi tempat yang cocok.

Diakui Furqan, parfum refill lebih cepat diterima kalangan muda dengan kelas ekonomi menengah. Karena itu berjualan di dekat mal atau kampus merupakan salah satu strategi pemasaran yang tepat.

Sementara bila tidak ingin mengeluarkan dana yang terlalu besar untuk menyewa toko, pemasaran secara online bisa menjadi salah satu alternatif.

Strategi usaha

Menjamurnya bisnis ini, menyebabkan persaingan menajadi ketat. Setiap pemilik toko harus memiliki strategi jitu untuk bertahan, kualitas produk menjadi hal utama yang harus dijaga terutama dengan meracik takaran yang pas antara bibit dan alcohol parfum.

“kami selalu berusaha menjaga kualitas produk dan pelayanan yang ramah dan bersahabat,” ujar Furqan. Sementara bila menjalankan usaha online, kendala biasanya ada pada saat pegiriman ke luar kota.

Wangi aromanya, wangi juga pendapatan. Dari usaha parfum refill ini, Furqan bisa mendapat sekitar Rp 12 juta per bulan per outlet dengan keuntungan bersih 40 % dari pendapatan.

Bagi pelaku yang ingin menikmati wangi parfum refill tetapi tidak ingin mengeluarkan dana besar, sistem kemitraan bisa menjadi jawabannya. Furqan saat ini telah memiliki 28 outlet menawarkan kemitraan.

Sistemnya ada yang disebut Mitra Ekslusif dengan total modal Rp 99 juta, Mitra Mandiri dengan modal Rp 5 juta atau kelipatannya hingga Rp 50 juta, dan Mitra Kreatif dengan modal mulai Rp 500.000. Furqan berani menjanjikan kepada pemodal bahwa keitraan yang dibina akan menghasilkan balik modal dalam waktu 4 bulan hingga 1,5 tahun.

(rahayuningsih, Bisnis Indonesia)

Leave a Reply